KELARUTAN ASAM OKSALAT SEBAGAI FUNGSI
TEMPERATUR
Lab. Kimia
Fisika Jurusan Kimia Universitas Negeri Semarang
Gedung D8 Lt 2
Sekaran Gunungpati Semarang, Indonesia
krisiyainawa@gmail.com,
085641294784
Abstrak
Percobaan
kelarutan sebagai fungsi temperatur pada asam oksalat dengan menggunakan
temperature yang bervariasi bertujuan untuk menentukan kelarutan asam oksalat
dan menentukan panas pelarutannya. Metode yang digunakan untuk menentukan
kelarutan Asam oksalat adalah dengan
metode titrasi. Asam oksalat dititrasi dengan larutan NaOH 0,2 M dan 0,5 M
dengan variasi temperature yaitu
10, 20, 30, dan 400C dengan menggunakan indikator pp. Titrasi
dilakukan secara duplo pada masing-masing variasi temperature dan konsentrasi
NaOH. Kelarutan Asam oksalat yang didapatkan pada
titrasi dengan NaOH 0,2 M semakin kecil pada kenaikkan temperatur, sedangkan
pada titrasi dengan NaOH 0,5 M pada kenaikkan temperature menunjukkan harga
kelarutan yang tidak menentu (naik-turun). Seharusnya semakin tinggi
temperatur, maka kelarutan semakin besar, begitu sebaliknya jika temperatur
semakin turun maka kelarutan semakin kecil. Harga panas
pelarutan yang didapatkan dari dua perhitungan yang berbeda yaitu persamaan
Van’t Hoff dan regresi linier menunjukkan hasil negatif sehingga dapat
disimpulkan bahwa reaksi berlangsung eksoterm. Seharusnya reaksi berlangsung
secara endoterm.
Kata kunci : Asam oksalat, kelarutan, NaOH, temperature, titrasi
Abstract
Experiment as a function
of temperature on the solubility of oxalic acid by using different temperature
aims to determining the solubility of oxalic acid and determining the
differential heat of dissolution. The method used to determine the solubility
of oxalic acid is the titration method. Oxalic acid is titrated in a solution
of 0.2 M NaOH and 0.5 M with different temperature: 10, 20, 30, and 400C
by using PP indicators. Titration was performed in duplo for each variation of
temperature and concentrations of NaOH. Oxalic acid solubility obtained from
the titration with 0.2 M NaOH is getting smaller in temperature’s ascension,
whereas the titration with 0.5 M NaOH at temperature ascension shows erratic
dissolution rates (up and down). In the higher
temperature, the solubility is supposed to be greater, otherwise in the lower
temperature, the solubility is smaller. Dissolution hot prices which is
obtained from two different calculations of the Van't Hoff equation and linear
regression showed a negative result, so it can be concluded that the reaction
is exothermic. The reaction should be endothermic.
Keywords : NaOH , oxalic
acid , solubility , temperature , titration
Pendahuluan
Setiap
senyawa kimia dapat larut di dalam pelarut yang sesuai. Salah satu pelarut yang
digunakan dalam melarutkan suatu senyawa adalah aquades. Tidak semua senyawa
larut dalam aquades. Salah satu senyawa yang larut dalam aquades adalah asam
oksalat. Ketika asam oksalat larut didalam aquades maka zat tersebut akan
terurai menjadi partikel-partikel dasar (molekul-molekul atau ion-ion) penyusun
asam oksalat. Oleh sebab itu, kristal asam oksalat yang dilarutkan dalam
aquades seakan-akan menghilang karena partikel-partikel asam oksalat yang
sangat kecil tidak dapat terlihat secara langsung.
Suatu larutan yang terdiri dari zat
terlarut dan pelarutnya, mempunyai gaya tarik-menarik. Contohnya adalah dalam
larutan asam oksalat. Setiap molekul aquades akan menarik beberapa molekul asam
oksalat sehingga gaya antarmolekul asam oksalat terlepas. Oleh karena gaya
tarik molekul aquades terbatas maka saat molekul asam oksalat yang terlarut
terlalu banyak, molekul air tidak mampu lagi melepaskan gaya tarik
antarmolekulnya. Sehingga terdapat
jumlah asam oksalat yang tidak melarut. Jumlah suatu zat kimia yang
melarut didalam pelarutnya disebut kelarutan.
Dalam besaran kuantitatif, kelarutan
merupakan konsentrasi zat terlarut dalam suatu larutan jenuh pada temperature tertentu. Sedangkan secara
kualitatif, kelarutan merupakan suatu interaksi yang spontan antara dua maupun
lebih zat untuk membentuk suatu dispersi molekul yang homogen (Tim asisten,
2008). Satuan kelarutan pada umumnya dinyatakan dalam gram L-1 atau
mol L-1 (Unggul, 2007).
Berdasarkan kelarutan suatu zat
terlarut dalam pelarutnya, larutan dibedakan menjadi tiga, yaitu larutan tidak
jenuh, larutan jenuh, dan larutan kelewat jenuh. Larutan tidak jenuh adalah
larutan yang masih mampu untuk melarutkan zar terlarutnya, larutan jenuh
merupakan larutan yang mengandung zat terlarut dalam jumlah yang maksimum, dan
larutan lewat jenuh adalah larutan yang sudah tidak dapat lagi melarutkan zat
terlarutnya sehingga terbentuk endapan dalam larutan (syukri,1990).
Pada larutan yang jenuh akan terjadi
kesetimbangan antara zat terlarut dalam larutan dan zat yang tidak terlarut.
Dalam kondisi kesetimbangan ini kecepatan zat untuk melarut sama dengan
kecepatan zat untuk mengendap, yang berarti konsentrasi zat dalam larutan akan
selalu konstan. Harga kesetimbangan pada sistem akan bergeser apabila dikenakan
suatu perubahan (Supeno, 2006).
Kelarutan suatu zat dipengaruhi oleh
beberapa faktor, antara lain adalah jenis pelarut dan terperatur. Jenis pelarut
yang digunakan untuk melarutkan zat kimia seharusnya sesuai dengan jenis
senyawa yang akan dilarutkan. Contohnya, apabila zat terlarutnya merupakan
senyawa polar maka larutkanlah senyawa tersebut dengan pelarut yang polar
sehingga zat dapat dengan mudah larut. Sebagian besar zat terlarut mempunyai
kelarutan yang terbatas pada beberapa jenis pelarut dan temperatur tertentu.
Temperatur dari pelarut memiliki dampak yang besar dari zat yang telah larut.
Pada sebagian besar padatan yang terlarut dalam larutan, kenaikkan temperatur
akan berdampak pada kenaikkan kelarutan. Begitu pula dengan kesetimbangan yang
akan bergeser apabila dipengaruhi oleh terperatur, terutama pada temperature
pelarutnya (syukardjo, 1997).
Pada dasarnya, kelarutan sebagai fungsi
temperatur didasari oleh pergeseran kesetimbangan antara zat yang bereaksi
dengan hasilnya. Apabila temperatur dinaikkan maka kelarutan akan bertambah dan
kesetimbangan akan bergeser. Sebaliknya apabila temperatur diturunkan maka
kelarutan akan semakin kecil dan disertai oleh pergeseran kesetimbangan juga.
Percobaan kelarutan sebagai fungsi
temperatur pada asam oksalat dengan menggunakan temperature yang bervariasi
bertujuan untuk menentukan kelarutan zat dan menentukan panas pelarutannya.
Metode
Metode
yang digunakan dalam percobaan kelarutan sebagai fungsi temperatur adalah
metode titrasi. Dalam pelaksanaan percobaan digunakan alat-alat yang sebagian
besar alat-alat gelas yaitu : 2 buah Buret 25 ml, 2 buah Labu Ukur 100 ml dan
200 ml, 1 buah Pipet Volum 10 ml, 8 buah Erlenmeyer 100 ml, 1 buah Termometer
dan 3 buah gelas kimia. Sedangkan bahan yang digunakan adalah sebagai berikut :
5,021 gram Asam oksalat for syn dari
Merck, 3,6 gram NaOH for syn dari Merck, dan indikator pp.
Dalam percobaan ini, kristal Asam oksalat
di larutkan sampai 200 ml, dan membuat
larutan NaOH 0,2 M dan 0,5 M. Sebelum melakukan titrasi, terlebih dahulu
memipet larutan Asam oksalat sebanyak 10 ml kedalam Erlenmeyer. Titrasi
dilakukan dengan variasi temperatur yaitu 10, 20, 30, dan 400C. Untuk
menaikkan temperatur larutan Asam oksalat dapat dipanaskan di dalam air panas dan
untuk menurunkan temperatur dapat dilakukan dengan mendinginkan dengan es batu.
Apabila temperatur yang diinginkan sudah tercapai barulah ditambah dengan indikator
pp sebanyak dua tetes kemudian larutan dapat dititrasi dengan larutan NaOH.
Titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna larutan yang bening menjadi
merah muda. Mengamati dan mencatat volume larutan NaOH yang digunakan untuk
menitrasi larutan Asam oksalat. Titrasi dilakukan sebanyak dua kali atau duplo
pada setiap variasi temperature dan konsentrasi NaOH.
Untuk mengelola data yang diperoleh
digunakan rumus pengenceran untuk menentukan kelarutan Asam oksalat. Sedangkan
untuk mengetahui panas pelarutnya digunakan persamaan Van’t Hoff dan regresi
linier untuk membentuk hubungan antara ln s (variabel terikat) dengan 1/T
(variable bebas).
Hasil Dan Pembahasan
Hasil
dari titrasi antara Asam oksalat dengan larutan NaOH dapat dilihat pada Tabel
1. dan Tabel.2
Tabel
1. Titrasi Asam oksalat dengan NaOH 0,2 M
|
T (K)
|
V H2C2O4
|
V NaOH 0,2 M
|
||
|
V1
|
V2
|
V rata-rata
|
||
|
313
|
10 ml
|
18.8 ml
|
18.0 ml
|
18.40 ml
|
|
303
|
10 ml
|
19.0 ml
|
18.6 ml
|
18.80 ml
|
|
293
|
10 ml
|
28.8 ml
|
29.5 ml
|
29.15 ml
|
|
283
|
10 ml
|
38.5 ml
|
37.9 ml
|
38.20 ml
|
Tabel
2. Titrasi Asam oksalat dengan NaOH 0,5 M
|
T (K)
|
V H2C2O4
|
V NaOH 0,5 M
|
||
|
V1
|
V2
|
V rata-rata
|
||
|
313
|
10 ml
|
7.8 ml
|
7.1 ml
|
7.45 ml
|
|
303
|
10 ml
|
8.3 ml
|
8.9 ml
|
8.60 ml
|
|
293
|
10 ml
|
7.8 ml
|
8.2 ml
|
8.00 ml
|
|
283
|
10 ml
|
8.8 ml
|
8.5 ml
|
8.65 ml
|
Berdasarkan
data dari Tabel 1. dan Tabel 2. kelarutan Asam oksalat dapat dihitung
mengunakan rumus titrasi yaitu M1.V1.n1 = M2.V2.n2.
Hasil perhitungan kelarutan Asam oksalat dapat dilihat pada Tabel 3. dan Tabel 4.
Tabel
3. Kelarutan Asam oksalat dalam NaOH 0,2 M
|
T(K)
|
s
|
|
313
|
0.1840
|
|
303
|
0.1880
|
|
293
|
0.2915
|
|
283
|
0.3820
|
Tabel
4. Kelarutan Asam oksalat dalam NaOH 0,5 M
|
T(K)
|
s
|
|
313
|
0.18625
|
|
303
|
0.21500
|
|
293
|
0.20000
|
|
283
|
0.21625
|
Pada
Tabel 3. menunjukkan bahwa semakin tinggi temperaturnya, kelarutan Asam oksalat
semakin kecil, sedangkan pada Tabel 4. menunjukkan harga kelarutan yang tidak
menentu (naik turun) ketika temperatu semakin tinggi. Hal ini berbeda dengan
teori yang ada bahwa seharusnya semakin tinggi temperatur, maka kelarutan
semakin besar, begitu sebaliknya jika temperatur semakin turun maka kelarutan
semakin kecil. Ketidakcocokan hasil praktikum dengan teori dapat terjadi karena beberapa hal, salah satunya
adalah kurangnya ketepatan praktikan saat
melakukan titrasi untuk mengetahui konsentrasi asam oksalat yang nantinya akan
digunakan untuk mengukur kelarutan asam oksalat.
Berdasarkan harga kelarutan pada Tabel 3. dan
Tabel 4., dapat dihitung panas pelarutnya dengan menggunakan persamaan Van’t
Hoff sebagai berikut :
Harga
panas pelarut yang didapat dari titrasi Asam oksalat dengan NaOH 0.2 M adalah
J/mol,
sedangkan pada NaOH 0,5 M sebesar
J/mol. Kedua harga
menunjukkan nilai negatif, sehingga dapat
diketahui bahwa reaksi yang terjadi pada keadaan eksoterm.
Selain
menggunakan persamaan Van’t Hoff, harga panas pelarut dapat dihitung
menggunakan regresi linear. Sebelumnya dibuat grafik ln s vs 1/T seperti pada
grafik di Gambar 1. dan Gambar 2. Sumbu x adalah 1/T sedangkan sumbu y adalah
ln s, sehingga diperoleh persamaan :
y
= a + bx
Dimana
Ln s
= 
↓ ↓ ↓ ↓
Y b x a
Tabel
5. Ln s dan 1/T pada NaOH 0,2 M
|
T (K)
|
s
|
I/T
|
ln s
|
|
313
|
0.1840
|
0.003195
|
-1.69281952
|
|
303
|
0.1880
|
0.003300
|
-1.67131332
|
|
293
|
0.2915
|
0.003413
|
-1.23271527
|
|
283
|
0.3820
|
0.003534
|
-0.96233467
|

Gambar 1. Grafik ln s vs 1/T
Tabel
6. Ln s dan 1/T pada NaOH 0,5 M
|
T (K)
|
s
|
1/T
|
ln s
|
|
313
|
0.18625
|
0.003195
|
-1.68067
|
|
303
|
0.21500
|
0.003300
|
-1.53712
|
|
293
|
0.20000
|
0.003413
|
-1.60944
|
|
283
|
0.21625
|
0.003534
|
-1.53132
|

Gambar 1. Grafik ln s vs 1/T
Dari grafik hubungan antara ln s vs
pada Gambar 1. didapatkan persamaan y = 2342x
- 9.261 sehingga diperoleh slopenya 2342. Setelah dilakukan perhitungan didapat harga panas
pelarutan sebesar
J/mol. Sedangkan pada Gambar 2. didapatkan
persamaan y = 328.9x - 2.694, sehingga diperoleh harga panas pelarutan sebesar
J/mol. Dari kedua data tersebut diperoleh
harga panas pelarutan bernilai negatif, maka reaksi terjadi pada keadaan
eksoterm.
Setelah menggunakan dua cara untuk menghitung
panas pelarutan yaitu dengan menggunakan persamaan Van’t Hoff dan regresi
linier didapatkan data yang sedikit berbeda namun hasilnya sama-sama negatif.
Harga panas pelarutan yang negatif menunjukka bahwa reaksi bersifat eksoterm,
padahal pada teori yang dirujuk seharusnya reaksi bersifat endoterm.
Kesimpulan
Kelarutan Asam oksalat yang didapatkan pada
titrasi dengan NaOH 0,2 M semakin kecil pada kenaikkan temperatur, sedangkan
pada titrasi dengan NaOH 0,5 M pada kenaikkan temperature menunjukkan harga
kelarutan yang tidak menentu (naik-turun).
Seharusnya semakin tinggi temperatur, maka kelarutan semakin besar,
begitu sebaliknya jika temperatur semakin turun maka kelarutan semakin kecil. Harga
panas pelarutan yang didapatkan dari dua perhitungan yang berbeda yaitu
persamaan Van’t Hoff dan regresi linier menunjukkan hasil negatif sehingga
dapat disimpulkan bahwa reaksi berlangsung eksoterm, seharusnya reaksi berlangsung
secara endoterm.
Daftar Pustaka
Sudarmo,
Unggul, 2007, Kimia untuk SMA Kelas XI, Surakarta : Phibeta.
Sukardjo, Pr.1997. Kimia Fisika. Yogyakarta : Rineka Cipta.
Supeno,
2006, Petunjuk Praktikum Kimia Fisika I,
Jayapura: Universitas Cendrawasih.
Syukri, S. 1999. Kimia Dasar 2. Bandung : ITB.
Tim
asisten., (2008) ,Penuntun Praktikum
Farmasi Fisika, Makassar: Jurusan farmasi Universitas Hasanuddin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar