Kamis, 07 November 2013

VOLUME MOLAL PARSIAL NATRIUM KLORIDA DALAM AIR

Inawakrisiya Werdikasesanti, Tri Amallia Seftiana
Lab. Kimia Fisika Jurusan Kimia Universitas Negeri Semarang
Gedung D8 Lt 2 Sekaran Gunungpati Semarang, Indonesia
krisiyainawa@gmail.com, 085641294784
50225


Abstrak
Percobaan volume molal parsial natrium klorida dalam air dengan menggunakan konsentrasi yang bervariasi bertujuan untuk menentukan volume molal parsial larutan natrium klorida. Metode yang digunakan untuk menentukan volume molal parsial larutan natrium klorida adalah dengan metode pengukuran bobot jenis larutan dalam piknometer 25 ml. Larutan natrium klorida dalam piknometer diukur dengan variasi konsentrasi yaitu 3 M, 0.5 M, 0.75 M, 0.375 M, dan 0.1875 M pada suhu kamar 26°C. Pengukuran bobot jenis dilakukan di dalam neraca analitik. Hasil percobaan yang telah dilakukan menunjukkan bahwa (1) volume molal parsial nyata yang diperoleh adalah 2,4169 cm3/mol dan (2) konsentrasi suatu larutan berbanding lurus dengan volume molal parsialnya. Semakin besar konsentrasi larutan maka semakin besar pula volume molal parsial, begitu pula sebaliknya. Akan tetapi pada percobaan volume molal parsial Natrium Klorida dalam air hasil yang didapat tidak sesuai dengan teori karena pada variasi konsentarsi larutan NaCl yang paling kecil mempunyai volume molal parsial yang paling besar.
          Kata kunci : konsentrasi, natrium klorida, piknometer, volume molal parsial.



Abstract
Experiment partial molal volume of sodium chloride in water using various concentration is aimed to determine the partial molal volume of sodium chloride solution. The menthod of this experiment is the menthod of measuring the specific gravity of the solution in 25 ml pycnometer. Solution of sodium chloride in pycnometer is measured by varying the concentration of  3 M, 0.5 M, 0.75 M, 0.375 M, and 0.1875 M at room temperature 26°C. specific gravity measurement made on the analytical balance. The results of experiment that have been done shows that (1) the real partial molal volume obtained is 2,4169 cm3/mol and (2) the concentration of a solution is proportional to the partial molal volume. If the concentration is greater, the partialmolal volume is also greater, conversely. On the other hand, at trial the molal partial volume of sodium chloride in water results are not appropriate with the theory. It is because, the smallest variations in the concentration of NaCl solution has the greatest partial molal volume.
        Keywords : concentration, partial molal volume, Pycnometer, sodium chloride

Pendahuluan

Molal atau molalitas didefinisikan sebagai jumlah mol zat terlarut tiap jumlah kilogram pelarut. Berdasarkan definisi tersebut, molalitas merupakam perbandingan antara jumlah mol terlarut dengan massa pelarut dalam kilogram. Molalitas biasanya digunakan untuk menyatakan besaran suatu padatan atau gas. Contohnya pada data pembentukan zat larutan encer yang mengacu pada keadaan molaritas satu. Molalitas dapat didefinisikan sebagai berikut (Bird, 1993) :
 .
Volume molal parsial suatu larutan adalah perubahan volume yang terjadi bila satu mol komponen Ӏ ditambahkan pada larutan tersebut (T.Imai, 2007). Volume molal parsial suatu zat murni sama dengan molar volumenya, tapi volume molal parsial suatu zat pada suatu larutan tidak sama dengan molar volume zat tersebut. Volume molal parsial dari komponen i pada suatu sistem sama dengan kenaikan atau penurunan yang sangat kecil pada volume dibagi dengan dengan banyaknya zat yang ditambahkan, pada saat suhu, tekanan, dan jumlah komponen lain yang ada pada sistem tersebut konstan (Ira N.Levine, 2009). Secara matematik, volume molal parsial didefinisikan sebagai berikut :
dimana   adalah volume molal parsial dari komponen ke-i. Secara fisisk  merupakan kenaikan dlam besaran termodinamika V yang diamati bila satu mol senyawa i ditambahkan ke suatu system yang besar, sehingga komposisisnya tetap konstan (Dogra dan Dogra,1990).
Komponen volume molal parsial suatu campuran dapat berubah-ubah tergantung pada komposisinya. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan volume molal parsial adalah adanya perbedaan antara Gaya Intermolekular pada larutan dan adanya perbedaan antara bentuk dan ukuran molekul suatu larutan pada komponen murni larutan tersebut (Ira N.Levine, 2009). Perubahan gaya-gaya yang bekerja antar molekul dan lingkungan molekul tersebut yang menyebabkan variasi sifat termodinamika campuran jika kompoisisnya berubah (Atkins,1994).
Terdapat tiga sifat termodinamik molal parsial utama, yaitu volume molal parsial dari komponen-komponen dalam lutan (panas differensial larutan), entalpi molal parsial dan energi bebas molal parsial (potensial kimia). Sifat-sifat ini dapat ditentukan dengan bantuan metode grafik, menggunakan hubungan analitik yang menunjukkan V dan ni serta menggunakan fungsi yang disebut besaran molal nyata yang dapat ditentukan dari persamaan :
          atau      
dimana  adalah volume molal untuk komponen murni.
Pada dasarnya volume molal parsial dipengaruhi oleh konsentrasi zat terlarut pada temperature dan tekanan yang konstan. Semakin besar konsentrasi zat terlarut dalam pelarutnya maka akan berbanding lurus dengan volume molal parsialnya.
Masalah yang akan dipecahkan dalam praktikum volume molal parsial adalah bagaimana menentukan volume molal parsial larutan dengan variasi konsentrasi melalui pengukuran berat jenis larutan menggunakan piknometer dan bagaimana pengaruh hubungan antara konsentrasi dengan volume molal parsial. Berdasarkan permasalahan tersebut, praktikum volume molal parsial bertujuan untuk menentukan volume molal parsial komponen larutan.

Metode

Metode yang digunakan pada percobaan volume molal parsial adalah pengukuran berat jenis larutan dalam piknometer. Langkah pertama yang dilakukan adalah membuat larutan induk yaitu larutan NaCl dengan konsentrasi 3 M sebanyak 50 ml. Pada pengukuran yang pertama piknometer 25 ml yang bersih dan kosong ditimbang di neraca analitik. Piknometer diisi dengan akuades, ditimbang kembali. Pengukuran berikutnya dimasukkan larutan NaCl 3 M sebanyak 25 ml sampai piknometer penuh.  Kemudian dimasukkan ke dalam neraca analitik, catat berat dan suhunya. Dari larutan NaCl induk diambil 12,5 ml, 6,25 ml, 3,125 ml, dan 1,5625 ml dengan masing-masing konsentrasi 1,5 M, 0,75 M, 0,375 M, dan 0,1875 M diencerkan sampai 25 ml. Larutan yang sudah diencerkan tersebut masing-masing diukur berat jeninnya dan diukur temperaturnya dari konsentrasi yang terkecil ke konsentrasi yang terbesar.
Bahan yang digunakan dalam percobaan volume molal parsial adalah 8,75 garan NaCl for syn dari Merck. Alat-alat yang digunakan adalah piknometer 25 ml, labu ukur 25 ml dan 50 ml, piper ukur 25 ml dan 5 ml, Erlenmeyer 50 ml, termometer 1000C dan neraca analitik.
Untuk mengelola data yang telah diperoleh digunakan metode analitik untuk menentukan volume molal parsial dan metode grafik regresi linier untuk mengetahui hubungan antara akar molalitas dengan volume molal parsial sehingga dapat diketahui volume molal parsial nyata.

Hasil Dan Pembahasan

Hasil dari pengukuran bobot jenis natrium klorida dalam air dapat dilihat pada Tabel 1. yang dilakukan pada suhu kamar 26°C.
Tabel 1. Data pengamatan pengukuran bobot jenis natrium klorida dalam air
   [NaCl]
Berat Piknometer (kg)
W - We
W - Wo
Wo - We
T (°C)
We
Wo
W
3.0000 M
16.7824
41.54
46.5880
29.8056
5.048
34.7576
28°C
1.5000 M
16.7824
41.54
44.1129
27.3305
2.5729
24.7576
28°C
0.7500 M
16.7824
41.54
43.3315
26.5491
1.7915
24.7576
27°C
0.3750 M
16.7824
41.54
42.5713
25.7889
1.0313
24.7576
28°C
0.1875 M
16.7824
41.54
41.7185
24.9361
0.1785
24.7576
27°C

Berdasarkan data pada Tabel 1. akan diperoleh data untuk perhitungan densitas, molalitas, dan volume molal parsial nartium klorida dalam air. Pada perhitungan densitas larutan digunakan persamaan , untuk menentukan molalitas larutan digunakan persamaan  , dan untuk perhitungan volume molal parsial digunakan persamaan . Hasil analisa data dengan menggunakan persamaan-persamaan tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Hasil analisa dari data pengamatan
[NaCl]
molalitas mmol/g
√m
Ø
3.0000 M
2.9507
1.7177
-8.8930
1.5000 M
1.4919
1.2214
-10.1927
0.7500 M
0.7367
0.8583
-37.4575
0.3750 M
0.3714
0.6094
-51.8745
0.1875 M
0.1901
0.4360
20.6267

Pada Tabel 2. dapat diamati bahwa pada penurunan konsentarsi variasi 3 M sampai 0,375 M larutan NaCl, volume molal parsial juga mengalami penurunan walaupun dengan harga negatif. Akan tetapi pada variasi konsentrasi yang terakhir, volume molal parsial mengalami kenaikan. Hal ini tidak sesuai dengan teori yang diungkapkan bahwa konsentrasi suatu larutan berbanding lurus dengan volume molal parsialnya. Semakin besar konsentrasi larutan maka semakin besar pula volume molal parsial yang dihasilkan, begitu pula sebaliknya semakin kecil konsentrasi larutan maka semakin kecil volume molal parsialnya. Dari Tabel 2. Dapat diketahui grafik hubungan antara akar molalitas dengan volume molal parsial yang dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Grafik hubungan  vs √m

Dari Gambar 1. Diperoleh persamaan yang dapat digunakan untuk menghitung volume molal parsial regresi yang dapat dilihat pada Tabel 3. dan  Gambar 2.


Tabel 3. Hasil analisa volume molal parsial regrasi
[NaCl]
molalitas mmol/g
√m
Ø
Ø regresi
3.0000 M
2.9507
1.7177
-8.893
-15.7481
1.5000 M
1.4919
1.2214
-10.1927
-16.9474
0.7500 M
0.7367
0.8583
-37.4575
-17.8249
0.3750 M
0.3714
0.6094
-51.8745
-18.4263
0.1875 M
0.1901
0.4360
20.6267
-18.8454


Gambar 2. Grafik hubungan √m vs φ regresi

Untuk menentukan volume molal parsial nyata maka dapat digunakan persamaan sebagai berikut :
Jadi, volume molal parsial nyata adalah 2,4169 cm3/mol.
           
Kesimpulan

Pada percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa (1) volume molal parsial nyata yang diperoleh adalah 2,4169 cm3/mol dan (2) konsentrasi suatu larutan berbanding lurus dengan volume molal parsialnya. Semakin besar konsentrasi larutan maka semakin besar pula volume molal parsial, begitu pula sebaliknya. Akan tetapi pada percobaan volume molal parsial Natrium Klorida dalam air hasil yang didapat tidak sesuai dengan teori karena pada variasi konsentarsi larutan NaCl yang paling kecil mempunyai volume molal parsial yang paling besar.

Daftar Pustaka

Atkins, P.W.. 1994. Kimia Fisika. Jakarta : Erlangga.
Bird, T.. 1993. Kimia Fisika Untuk Universitas. Jakarta : PT Gramedia.
Dogra, S. K. dan Dogra, S.. 1990. Kimia Fisika dan Soal-Soal. Jakarta : Universitas Indonesia.
Imai, T.. 2007. Molecular theory of partial molar volume and its applications tobiomolecular systems. Condensed Matter Physics.
Levine, Ira N.. 2009. Physical Chemistry Sixth Edition. New York : Mc Graw Hill.
Wahyuni, Sri. 2013. Diktat Praktikum Kimia Fisik. Semarang: Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UniversitasNegeri Semarang.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar