Selasa, 12 November 2013


KELARUTAN TIMBAL BALIK SISTEM BINER FENOL AIR

Dwi Norma Gupitasari, Febhilia Dhita Serfanda
Lab.Kimia Fisika Jurusan Kimia Universitas Negeri Semarang
Gedung D8 Lt 2 Sekaran Gunungpati Semarang, Indonesia
gupitachemist@gmail.com, 085640634695
50225

Abstrak
Percobaan kelarutan timbal balik sistem biner fenol air bertujuan untuk menentukan temperatur kritis fenol air melalui kurva parabola yang menyatakan hubungan antara temperatur dengan komposisi fenol dalam air. Metode yang digunakan melalui metode titrasi. Langkah-langkah dalam percobaan ini ada yaitu: 1) fenol disiapkan dengan menimbang fenol sejumlah yang akan digunakan lalu dimasukkan dalam tabung reaksi yang telah disusun dengan pengaduk dan termometer, 2) air ditambahkan melalui buret ke dalam tabung yang berisi fenol sampai keruh, 3) campuran fenol air dipanaskan dalam penangas bersuhu kurang lebih 90oC sampai jernih, ketika diperoleh campuran yang jernih maka disebut sebagai temperatur awal (T1), 4) campuran dipanaskan terus sampai (T1+4) ºC kemudian dikeluarkan dari penangas dan didinginkan, pada saat terjadi kekeruhan kembali maka temperatur yang dihitung adalah temperatur akhir (T2). Hasil percobaan menunjukkan data pengamatan yang dihitung menunjukkan komposisi fenol dalam air dapat membentuk kurva parabola pada temperatur kritis 77oC. Sehingga pada percobaan tersebut dapat disimpulkan bahwa sebelum dan sesudah temperatur kritis terbentuk dua fasa antara fasa padat fenol dan fasa cair air. Sebagian fenol larut dalam air. Sementara pada temperatur kritis terbentuk satu fasa yang  merupakan fasa homogen dimana fenol dapat bercampur dengan air.
Kata kunci: Kelarutan fenol air; Kurva parabola; Temperatur kritis.

Abstract
Mutual solubility experiments phenol water binary system aims to determine the critical temperature of water by phenol parabolic curve expressing the relation between the temperature of the composition of phenol in water . The method used by titration methods . The steps in this experiment there are: 1 ) phenol phenol was prepared by weighing the amount that will be used and then put in a test tube that has been prepared with a stirrer and a thermometer , 2 ) water is added through a burette into a tube containing phenol until turbid , 3 ) phenol mixture was heated in a water bath temperature of approximately 90oC until crisp , clear mixture is obtained when it is called as the initial temperature ( T1 ) , 4 ) continued until the mixture is heated ( T1 +4 ) º C and then removed from the bath and cooled , in the event of turbidity back then the calculated temperature is the final temperature ( T2 ) . The experimental results show that observational data calculated the composition of phenol in water to form a parabolic curve at the critical temperature of 77oC . So that the experiment can be concluded that the critical temperature before and after the two- phase formed between solid phase and liquid phase phenol water . Most phenol soluble in water . While the critical temperature formed a homogeneous phase is the phase in which phenol can be mixed with water .
Keywords : critical temperature ; parabolic curve ; water solubility of phenol.

Pendahuluan
Latar belakang percobaan kelarutan timbal balik sistem biner fenol air untuk membuktikan bahwa kelarutan suatu zat kimia di dalam air berbeda-beda, termasuk kelarutan fenol dalam air. Campuran antara fenol dan air membentuk dua fasa yang dapat berubah pada kondisi tertentu. Fase pertama merupakan fase homogennya yang disebut sebagai submakroskopik dimana suatu zat benar-benar terpisah dari zat lain dengan batas yang jelas. Hal ini dijelaskan oleh Dogra dalam buku kimia fisiknya.
Pada sistem biner fenol air akan membentuk 2 fasa. Suatu fase merupakan fasa seragam atau homogeny yang menjelaskan tentang submakroskopiknya yakni suatu sistem zat terpisah dari system lainnya. Sedangkan campuran yang satunya berupa campuran padatan atau cairan yang tidak akan saling bercampur sehingga dapat membentuk fasa terpisah. Sedangkan jika campurannya gas maka akan membentuk satu fasa pada sistemnya karena membentuk homogen (Dogra SK dan Dogra S, 2008)
Kelarutan timbal balik sistem biner fenol air menjelaskan sifat kelarutan fenol di dalam air pada suhu tertentu. Kelarutan yang dimaksutkan diartikan sejumlah zat terlarut yang dapat larut dalam sejumlah pelarut. Kelarutan fenol di dalam air semakin bertambah dengan penambahan air sampai mencapai temperatur kritis. Pada temperatur kritis akan terjadi pencampuran secara homogeny antara fenol dengan air membentuk satu fasa. Namun fasa ini hanya berlangsung pada suhu tertentu saja. Setelah fasa pada temperatur kritis (Tc) berakhir maka akan terbentuk dua fasa lagi dimana hanya sebagian dari fenol yang larut dalam air.
Temperatur kritis pada kelarutan timbal balik fenol air membentuk campuran yang homogen. Suatu campuran hanya akan bercampur sebagian apabila terdapat dibawah temperatur kritis dan melebihi temperatur kritis. System biner timbale balik fenol air membentuk kurva parabola berdasarkan bertambahnya % fenol dalam setiap perubahan temperatur dibawah temperatur kritis. Komposisi fenol dalam air akan berubah apabila suhu naik diatas 50oC. Campuran akan homogen pada temperatur diatas 76oC. pada temperatur tersebut disebut sebagai temperatur kritis pada kelarutan fenol dalam air. Kurva parabola yang terbentuk pada sistem biner fenol air akan terlihat daerah dengan satu fasa dan daerah dengan mempunyai dua fasa yaitu padat dan cair. Sehingga membentuk kurva hubungan antara temperatur dengan komposisi penyusunnya yaitu fenol dalam air dapat dilihat pada Gambar 1 (BS, 2006)

 


















Gambar 1. Kurva hubungan antara temperature dengan komposisi fenol dalam air

Pada kelarutan timbale balik fenol air disebut sebagai system biner karena dapat memperlihatkan jumlah komponen terdiri dari dua zat yaitu fenol dan air. Kelarutan salah satu zat tersebut akan berubah apabila ditambahkan dengan salah satu zat penyusunnya. Baik ditambahkan fenol ataupun air pada temperatur tertentu sampai pada temperatur kritis.
Temperatur kritis dijadikan sebagai batas kelarutan suatu zat di dalam zat lain. Pada temperatur kritis (Tc) terjadi homogenitas suatu campuran zat kimia dimana kedua komponen benar-benar tercampur. Apabila gerakan termal pada campuran ini lebih besar maka akan menghasilkan kemampuan campuran yang lebih besar pula pada kedua zat tersebut ( Rohman, 2004)
Permasalah dalam percobaan kelarutan timbal balik sistem biner fenol air adalah bagaimana menentukan komposisi fenol dalam air untuk membuat kurva parabola hubungan antara temperatur dengan fraksi mol fenol dalam air. Permasalahan yang kedua penentuan temperatur kritis (Tc) pada percobaan tersebut. berdasarkan permasalahan tersebut tujuan dari percobaan kelarutan timbal balik sistem biner fenol air adalah untuk menentukan temperatur kritis fenol air melalui kurva parabola.

Metode
Metode yang digunakan pada percobaan kelarutan timbal balik sistem biner fenol air dengan pengukuran temperatur untuk menentukan temperatur kritis  setelah penambahan air melalui metode titrasi. Langkah-langkah dalam percobaan ini ada yaitu: 1) fenol disiapkan dengan menimbang fenol sejumlah yang akan digunakan lalu dimasukkan dalam tabung reaksi yang telah disusun dengan pengaduk dan termometer, 2) air ditambahkan melalui buret ke dalam tabung yang berisi fenol sampai keruh, 3) campuran fenol air dipanaskan dalam penangas bersuhu kurang lebih 90oC sampai jernih, ketika diperoleh campuran yang jernih maka disebut sebagai temperatur awal (T1), 4) campuran dipanaskan terus sampai (T1+4) ºC kemudian dikeluarkan dari penangas dan didinginkan, pada saat terjadi kekeruhan kembali maka temperatur yang dihitung adalah temperatur akhir (T2). Temperatur rata-rata diperoleh dari setengah penjumlahkan T1 dan T2.
Bahan yang digunakan adalah sebagai berikut. C6H5OH for syn dari Merck dan aquades. Demikian juga alat yang digunakan sebagai berikut. Beaker gelas pyrex 100 dan 250 ml, tabung reaksi pyrex diameter 4 cm, corong pyrex 60oC, termometer skala 100oC, buret AS 25 ml, spatula, pengaduk, penjepit tabung, statif, dan penangas air.
Untuk mendapatkan kelarutan timbal balik sistem biner fenol air, data yang diperoleh dikelola dengan menggunakan metode kuantitatif untuk menentukan fraksi mol fenol dalam air dan metode kualitatif pada pembuatan grafik polynomial untuk mendapatkan hubungan temperatur dan fraksi mol fenol dalam air. Berdasarkan grafik tersebut dapat diketahui temperatur kritis (Tc) dimana terbentuknya satu fasa homogenitas campuran fenol dengan air. Selain grafik polynomial, data yang diperoleh juga dianalisis dengan menggunakan grafik regresi linier untuk melihat hubungan massa air dengan kadar fenol dalam air.

Hasil dan Pembahasan
Hasil perhitungan massa air yang ditambahkan dengan temperatur rata-rata setiap penambahan air dapat dilihat pada tabel 1. Hal ini dilakukan pada suhu kamar 26oC.
Tabel 1. Data pengamatan perhitungan massa air dan temperatur rata-rata setiap penambahan air

Aquades (ml)
Massa (gram)
Temperatur (oC)
C6H5OH
Air
T1
T2
3.5
5.0019
7.0000
61
63
62
3.5
5.0019
10.5000
74
76
75
3.5
5.0019
14.0000
76
78
77
3.5
5.0019
17.5000
73
75
74
3.5
5.0019
21.0000
69
71
70
3.5
5.0019
24.5000
64
70
67
3.5
5.0019
27.0000
63
67
65
3.5
5.0019
30.5000
62
64
63
3.5
5.0019
34.0000
60
62
60
3.5
5.0019
37.5000
56
60
58
3.5
5.0019
40.5000
54
58
56
3.5
5.0019
43.5000
50
56
53
3.5
5.0019
47.0000
48
50
49
3.5
5.0019
50.5000
47
49
48

Tabel diatas meperlihatkan bahwa temperatur perlahan-lahan naik sampai temperatur paling tinggi yaitu 77oC pada penambahan air sebesar 14.0000 gram. Setelah itu temperatur menjadi berkurang. Hal tersebut menyatakan komposisi fenol dalam air. Di bawah temperatur kritis masih terbentuk dua fasa yaitu fasa padat fenol dan fasa cair air. Setelah fasa itu kembali membentuk dua fasa kembali yang sama  (Wahyuni, 2003)
Berdasarkan data pada tabel 1. Dapat digunakan untuk menghitung kadar fenol dalam air dan kadar air dalam fenol. Pada perhitungan kadar massa fenol diperoleh melalui massa fenol dan massa air dengan persamaan
 ,
sementara kadar air dapat diperoleh dengan persamaan
 Hasil perhitungan yang diperoleh dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Massa air dan % massa C6H5OH

Massa (gram)
% massa
air
air
5.0019
7.0000
41.67
58.33
5.0019
10.5000
32.27
67.73
5.0019
14.0000
26.32
73.68
5.0019
17.5000
22.32
77.77
5.0019
21.0000
19.24
80.76
5.0019
24.5000
16.95
83.05
5.0019
27.0000
15.63
84.37
5.0019
30.5000
14.09
85.91
5.0019
34.0000
12.82
87.18
5.0019
37.5000
11.77
88.23
5.0019
40.5000
10.99
89.01
5.0019
43.5000
10.37
89.69
5.0019
47.0000
9.62
90.38
5.0019
50.5000
9.01
90.99

Pada tabel 2 dapat dilihat %fenol berkurang pada setiap penambahan air. Dari hasil perhitungan dapat diamati bahwa semakin besar  volume air yang ditambahkan, maka semakin kecil kadar massa fenol di dalam air. Hal tersebut dikarenakan bertambahnya volume air akan menaikkan massa air yang menyebabkan fenol larut dalam air bertambah besar sehingga kadar massa fenol dalam air berkurang. Ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa kelarutan fenol dalam air akan ada sebagian fenol yang dapat larut dalam air.
Dari tabel 2. Dapat diketahui grafik hubungan antara massa air dengan kadar fenol dalam air yang dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Grafik hubungan massa air vs % C6H5OH

Berdasarkan kadar fenol yang telah dihitung pada tabel 2. Dapat digunakan untuk menentukan fraksi mol fenol di dalam air. Fraksi mol fenol diperoleh dengan menggunakan persamaan matematis

Penentuan fraksi mol fenol ini untuk mengetahui hubungan antara perubahan temperatur dengan fraksi mol fenol dalam air. Temperatur akan menunjukkan temperatur kritis (Tc) yaitu temperatur yang menunjukkan terjadinya satu fasa. Fasa ini merupakan fasa dimana fenol homogen dengan air.
Hasil perhitungan fraksi mol fenol dalam air dapat dilihat pada tabel 3.

Mol
X C6H5OH
T (oC)
C6H5OH
Air
0.527
0.389
0.575
62
0.527
0.583
0.475
75
0.527
0.778
0.404
77
0.527
0.972
0.352
74
0.527
1.167
0.311
70
0.527
1.361
0.279
67
0.527
1.500
0.259
65
0.527
1.694
0.237
63
0.527
1.889
0.218
60
0.527
2.083
0.202
58
0.527
2.250
0.189
56
0.527
2.417
0.179
53
0.527
2.611
0.168
49
0.527
2.806
0.158
48

Pada tabel 3. Dapat dilihat hubungan antara fraksi mol fenol dengan temperatur. Berdasarkan data tersebut dapat dinyatakan bahwa temperatur pada awal penambahan air terus meningkat sampai pada temperatur kritis 77oC. Kemudian temperatur kembali turun. Naik turunnya temperatur diikuti dengan menurunnya komposisi fenol dalam air. Komposisi sempurna bercampurnya fenol dengan air pada 0.527 mol dengan komposisi 0.404. Hubungan tersebut dapat diperjelas dengan grafik yang menyatakan hubungan antara fraksi mol fenol dengan perubahan temperatur yang dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Temperatur vs X fenol

Pada Gambar 3. Dapat dilihat bahwa sebelum temperatur kritis campuran terdiri dari dua fasa yaitu fasa fenol dan air. Namun pada temperatur kritis (Tc) terjadi campuran yang homogen antara keduanya. Campuran ini membentuk kembali dua fasa setelah melalui temperatur kritis.
Beberapa sistem kelarutan suatu zat akan memperlihatkan temperatur kritisnya (Tc). Dibawah Tc kedua komponen bercampur sebagian dengan membentuk dua fasa. Salah satunya fenol-air dan air-trietilamina. Pada temperatur rendah kedua komponen membentuk kompleks yang kuat sehingga kompleks terurai membentuk dua komponen sehingga sulit bercampur. Sementara pada temperatur tinggi kompleks yang terbentuk sangat lemah sehingga mudah bercampur membentuk satu fasa. Temperatur tinggi ini yang disebut sebagai temperatur kritis (Tc) ( Atkins, 1999)

Kesimpulan

Kurva yang menyatakan hubungan antara temperatur dan komposisi fenol dalam air dapat diperoleh dengan menghitung fraksi mol fenol dalam air. Persamaan yang digunakan yaitu     sehingga diperoleh grafik T vs fraksi mol fenol. T ditempatkan pada ordinat dan fraksi mol C6H5OH ditempatkan pada absis. Sedangkan temperatur kritis pada percobaan ini pada temperatur 77oC. Temperatur ini sesuai dengan teori bahwa pada temperatur diatas 76oC campuran fenol air akan membentuk satu fasa (fasa homogen). Pada campuran fenol air bercampur pada suhu tinggi karena kompleksnya sangat lemah sehingga fenol dapat bercampur sempurna dengan air pada 0.527 mol pada komposisi fenol 0.404.

Daftar Pustaka

Atkins, PW. , 1999, Kimia Fisika, Jakarta: Erlangga.
BS, Nurwachid., 2006, Kimia Fisika II, Semarang: Jurusan Kimia FMIPA UNNES.
Dogran S dan Dogra SK., 2008, Kimia Fisik dan Soal-soal, Jakarta: UI Press.
Rohman, Ijang., 2004, Kimia Fisika I, Bandung: UPI.
Wahyuni, Sri., 2003, Buku Ajar Kimia Fisika 2, Semarang: UNNES.



  
KELARUTAN TIMBAL BALIK SISTEM BINER FENOL AIR

Dwi Norma Gupitasari, Febhilia Dhita Serfanda
Lab.Kimia Fisika Jurusan Kimia Universitas Negeri Semarang
Gedung D8 Lt 2 Sekaran Gunungpati Semarang, Indonesia
gupitachemist@gmail.com, 085640634695
50225

Abstrak
Percobaan kelarutan timbal balik sistem biner fenol air bertujuan untuk menentukan temperatur kritis fenol air melalui kurva parabola yang menyatakan hubungan antara temperatur dengan komposisi fenol dalam air. Metode yang digunakan melalui metode titrasi. Langkah-langkah dalam percobaan ini ada yaitu: 1) fenol disiapkan dengan menimbang fenol sejumlah yang akan digunakan lalu dimasukkan dalam tabung reaksi yang telah disusun dengan pengaduk dan termometer, 2) air ditambahkan melalui buret ke dalam tabung yang berisi fenol sampai keruh, 3) campuran fenol air dipanaskan dalam penangas bersuhu kurang lebih 90oC sampai jernih, ketika diperoleh campuran yang jernih maka disebut sebagai temperatur awal (T1), 4) campuran dipanaskan terus sampai (T1+4) ºC kemudian dikeluarkan dari penangas dan didinginkan, pada saat terjadi kekeruhan kembali maka temperatur yang dihitung adalah temperatur akhir (T2). Hasil percobaan menunjukkan data pengamatan yang dihitung menunjukkan komposisi fenol dalam air dapat membentuk kurva parabola pada temperatur kritis 77oC. Sehingga pada percobaan tersebut dapat disimpulkan bahwa sebelum dan sesudah temperatur kritis terbentuk dua fasa antara fasa padat fenol dan fasa cair air. Sebagian fenol larut dalam air. Sementara pada temperatur kritis terbentuk satu fasa yang  merupakan fasa homogen dimana fenol dapat bercampur dengan air.
Kata kunci: Kelarutan fenol air; Kurva parabola; Temperatur kritis.

Abstract
Mutual solubility experiments phenol water binary system aims to determine the critical temperature of water by phenol parabolic curve expressing the relation between the temperature of the composition of phenol in water . The method used by titration methods . The steps in this experiment there are: 1 ) phenol phenol was prepared by weighing the amount that will be used and then put in a test tube that has been prepared with a stirrer and a thermometer , 2 ) water is added through a burette into a tube containing phenol until turbid , 3 ) phenol mixture was heated in a water bath temperature of approximately 90oC until crisp , clear mixture is obtained when it is called as the initial temperature ( T1 ) , 4 ) continued until the mixture is heated ( T1 +4 ) º C and then removed from the bath and cooled , in the event of turbidity back then the calculated temperature is the final temperature ( T2 ) . The experimental results show that observational data calculated the composition of phenol in water to form a parabolic curve at the critical temperature of 77oC . So that the experiment can be concluded that the critical temperature before and after the two- phase formed between solid phase and liquid phase phenol water . Most phenol soluble in water . While the critical temperature formed a homogeneous phase is the phase in which phenol can be mixed with water .
Keywords : critical temperature ; parabolic curve ; water solubility of phenol.

Pendahuluan
Latar belakang percobaan kelarutan timbal balik sistem biner fenol air untuk membuktikan bahwa kelarutan suatu zat kimia di dalam air berbeda-beda, termasuk kelarutan fenol dalam air. Campuran antara fenol dan air membentuk dua fasa yang dapat berubah pada kondisi tertentu. Fase pertama merupakan fase homogennya yang disebut sebagai submakroskopik dimana suatu zat benar-benar terpisah dari zat lain dengan batas yang jelas. Hal ini dijelaskan oleh Dogra dalam buku kimia fisiknya.
Pada sistem biner fenol air akan membentuk 2 fasa. Suatu fase merupakan fasa seragam atau homogeny yang menjelaskan tentang submakroskopiknya yakni suatu sistem zat terpisah dari system lainnya. Sedangkan campuran yang satunya berupa campuran padatan atau cairan yang tidak akan saling bercampur sehingga dapat membentuk fasa terpisah. Sedangkan jika campurannya gas maka akan membentuk satu fasa pada sistemnya karena membentuk homogen (Dogra SK dan Dogra S, 2008)
Kelarutan timbal balik sistem biner fenol air menjelaskan sifat kelarutan fenol di dalam air pada suhu tertentu. Kelarutan yang dimaksutkan diartikan sejumlah zat terlarut yang dapat larut dalam sejumlah pelarut. Kelarutan fenol di dalam air semakin bertambah dengan penambahan air sampai mencapai temperatur kritis. Pada temperatur kritis akan terjadi pencampuran secara homogeny antara fenol dengan air membentuk satu fasa. Namun fasa ini hanya berlangsung pada suhu tertentu saja. Setelah fasa pada temperatur kritis (Tc) berakhir maka akan terbentuk dua fasa lagi dimana hanya sebagian dari fenol yang larut dalam air.
Temperatur kritis pada kelarutan timbal balik fenol air membentuk campuran yang homogen. Suatu campuran hanya akan bercampur sebagian apabila terdapat dibawah temperatur kritis dan melebihi temperatur kritis. System biner timbale balik fenol air membentuk kurva parabola berdasarkan bertambahnya % fenol dalam setiap perubahan temperatur dibawah temperatur kritis. Komposisi fenol dalam air akan berubah apabila suhu naik diatas 50oC. Campuran akan homogen pada temperatur diatas 76oC. pada temperatur tersebut disebut sebagai temperatur kritis pada kelarutan fenol dalam air. Kurva parabola yang terbentuk pada sistem biner fenol air akan terlihat daerah dengan satu fasa dan daerah dengan mempunyai dua fasa yaitu padat dan cair. Sehingga membentuk kurva hubungan antara temperatur dengan komposisi penyusunnya yaitu fenol dalam air dapat dilihat pada Gambar 1 (BS, 2006)

 

















Gambar 1. Kurva hubungan antara temperature dengan komposisi fenol dalam air

Pada kelarutan timbale balik fenol air disebut sebagai system biner karena dapat memperlihatkan jumlah komponen terdiri dari dua zat yaitu fenol dan air. Kelarutan salah satu zat tersebut akan berubah apabila ditambahkan dengan salah satu zat penyusunnya. Baik ditambahkan fenol ataupun air pada temperatur tertentu sampai pada temperatur kritis.
Temperatur kritis dijadikan sebagai batas kelarutan suatu zat di dalam zat lain. Pada temperatur kritis (Tc) terjadi homogenitas suatu campuran zat kimia dimana kedua komponen benar-benar tercampur. Apabila gerakan termal pada campuran ini lebih besar maka akan menghasilkan kemampuan campuran yang lebih besar pula pada kedua zat tersebut ( Rohman, 2004)
Permasalah dalam percobaan kelarutan timbal balik sistem biner fenol air adalah bagaimana menentukan komposisi fenol dalam air untuk membuat kurva parabola hubungan antara temperatur dengan fraksi mol fenol dalam air. Permasalahan yang kedua penentuan temperatur kritis (Tc) pada percobaan tersebut. berdasarkan permasalahan tersebut tujuan dari percobaan kelarutan timbal balik sistem biner fenol air adalah untuk menentukan temperatur kritis fenol air melalui kurva parabola.

Metode
Metode yang digunakan pada percobaan kelarutan timbal balik sistem biner fenol air dengan pengukuran temperatur untuk menentukan temperatur kritis  setelah penambahan air melalui metode titrasi. Langkah-langkah dalam percobaan ini ada yaitu: 1) fenol disiapkan dengan menimbang fenol sejumlah yang akan digunakan lalu dimasukkan dalam tabung reaksi yang telah disusun dengan pengaduk dan termometer, 2) air ditambahkan melalui buret ke dalam tabung yang berisi fenol sampai keruh, 3) campuran fenol air dipanaskan dalam penangas bersuhu kurang lebih 90oC sampai jernih, ketika diperoleh campuran yang jernih maka disebut sebagai temperatur awal (T1), 4) campuran dipanaskan terus sampai (T1+4) ºC kemudian dikeluarkan dari penangas dan didinginkan, pada saat terjadi kekeruhan kembali maka temperatur yang dihitung adalah temperatur akhir (T2). Temperatur rata-rata diperoleh dari setengah penjumlahkan T1 dan T2.
Bahan yang digunakan adalah sebagai berikut. C6H5OH for syn dari Merck dan aquades. Demikian juga alat yang digunakan sebagai berikut. Beaker gelas pyrex 100 dan 250 ml, tabung reaksi pyrex diameter 4 cm, corong pyrex 60oC, termometer skala 100oC, buret AS 25 ml, spatula, pengaduk, penjepit tabung, statif, dan penangas air.
Untuk mendapatkan kelarutan timbal balik sistem biner fenol air, data yang diperoleh dikelola dengan menggunakan metode kuantitatif untuk menentukan fraksi mol fenol dalam air dan metode kualitatif pada pembuatan grafik polynomial untuk mendapatkan hubungan temperatur dan fraksi mol fenol dalam air. Berdasarkan grafik tersebut dapat diketahui temperatur kritis (Tc) dimana terbentuknya satu fasa homogenitas campuran fenol dengan air. Selain grafik polynomial, data yang diperoleh juga dianalisis dengan menggunakan grafik regresi linier untuk melihat hubungan massa air dengan kadar fenol dalam air.

Hasil dan Pembahasan
Hasil perhitungan massa air yang ditambahkan dengan temperatur rata-rata setiap penambahan air dapat dilihat pada tabel 1. Hal ini dilakukan pada suhu kamar 26oC.
Tabel 1. Data pengamatan perhitungan massa air dan temperatur rata-rata setiap penambahan air

Aquades (ml)
Massa (gram)
Temperatur (oC)
C6H5OH
Air
T1
T2
3.5
5.0019
7.0000
61
63
62
3.5
5.0019
10.5000
74
76
75
3.5
5.0019
14.0000
76
78
77
3.5
5.0019
17.5000
73
75
74
3.5
5.0019
21.0000
69
71
70
3.5
5.0019
24.5000
64
70
67
3.5
5.0019
27.0000
63
67
65
3.5
5.0019
30.5000
62
64
63
3.5
5.0019
34.0000
60
62
60
3.5
5.0019
37.5000
56
60
58
3.5
5.0019
40.5000
54
58
56
3.5
5.0019
43.5000
50
56
53
3.5
5.0019
47.0000
48
50
49
3.5
5.0019
50.5000
47
49
48

Tabel diatas meperlihatkan bahwa temperatur perlahan-lahan naik sampai temperatur paling tinggi yaitu 77oC pada penambahan air sebesar 14.0000 gram. Setelah itu temperatur menjadi berkurang. Hal tersebut menyatakan komposisi fenol dalam air. Di bawah temperatur kritis masih terbentuk dua fasa yaitu fasa padat fenol dan fasa cair air. Setelah fasa itu kembali membentuk dua fasa kembali yang sama  (Wahyuni, 2003)
Berdasarkan data pada tabel 1. Dapat digunakan untuk menghitung kadar fenol dalam air dan kadar air dalam fenol. Pada perhitungan kadar massa fenol diperoleh melalui massa fenol dan massa air dengan persamaan
 ,
sementara kadar air dapat diperoleh dengan persamaan
 Hasil perhitungan yang diperoleh dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Massa air dan % massa C6H5OH

Massa (gram)
% massa
air
air
5.0019
7.0000
41.67
58.33
5.0019
10.5000
32.27
67.73
5.0019
14.0000
26.32
73.68
5.0019
17.5000
22.32
77.77
5.0019
21.0000
19.24
80.76
5.0019
24.5000
16.95
83.05
5.0019
27.0000
15.63
84.37
5.0019
30.5000
14.09
85.91
5.0019
34.0000
12.82
87.18
5.0019
37.5000
11.77
88.23
5.0019
40.5000
10.99
89.01
5.0019
43.5000
10.37
89.69
5.0019
47.0000
9.62
90.38
5.0019
50.5000
9.01
90.99

Pada tabel 2 dapat dilihat %fenol berkurang pada setiap penambahan air. Dari hasil perhitungan dapat diamati bahwa semakin besar  volume air yang ditambahkan, maka semakin kecil kadar massa fenol di dalam air. Hal tersebut dikarenakan bertambahnya volume air akan menaikkan massa air yang menyebabkan fenol larut dalam air bertambah besar sehingga kadar massa fenol dalam air berkurang. Ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa kelarutan fenol dalam air akan ada sebagian fenol yang dapat larut dalam air.
Dari tabel 2. Dapat diketahui grafik hubungan antara massa air dengan kadar fenol dalam air yang dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Grafik hubungan massa air vs % C6H5OH

Berdasarkan kadar fenol yang telah dihitung pada tabel 2. Dapat digunakan untuk menentukan fraksi mol fenol di dalam air. Fraksi mol fenol diperoleh dengan menggunakan persamaan matematis

Penentuan fraksi mol fenol ini untuk mengetahui hubungan antara perubahan temperatur dengan fraksi mol fenol dalam air. Temperatur akan menunjukkan temperatur kritis (Tc) yaitu temperatur yang menunjukkan terjadinya satu fasa. Fasa ini merupakan fasa dimana fenol homogen dengan air.
Hasil perhitungan fraksi mol fenol dalam air dapat dilihat pada tabel 3.

Mol
X C6H5OH
T (oC)
C6H5OH
Air
0.527
0.389
0.575
62
0.527
0.583
0.475
75
0.527
0.778
0.404
77
0.527
0.972
0.352
74
0.527
1.167
0.311
70
0.527
1.361
0.279
67
0.527
1.500
0.259
65
0.527
1.694
0.237
63
0.527
1.889
0.218
60
0.527
2.083
0.202
58
0.527
2.250
0.189
56
0.527
2.417
0.179
53
0.527
2.611
0.168
49
0.527
2.806
0.158
48

Pada tabel 3. Dapat dilihat hubungan antara fraksi mol fenol dengan temperatur. Berdasarkan data tersebut dapat dinyatakan bahwa temperatur pada awal penambahan air terus meningkat sampai pada temperatur kritis 77oC. Kemudian temperatur kembali turun. Naik turunnya temperatur diikuti dengan menurunnya komposisi fenol dalam air. Komposisi sempurna bercampurnya fenol dengan air pada 0.527 mol dengan komposisi 0.404. Hubungan tersebut dapat diperjelas dengan grafik yang menyatakan hubungan antara fraksi mol fenol dengan perubahan temperatur yang dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Temperatur vs X fenol

Pada Gambar 3. Dapat dilihat bahwa sebelum temperatur kritis campuran terdiri dari dua fasa yaitu fasa fenol dan air. Namun pada temperatur kritis (Tc) terjadi campuran yang homogen antara keduanya. Campuran ini membentuk kembali dua fasa setelah melalui temperatur kritis.
Beberapa sistem kelarutan suatu zat akan memperlihatkan temperatur kritisnya (Tc). Dibawah Tc kedua komponen bercampur sebagian dengan membentuk dua fasa. Salah satunya fenol-air dan air-trietilamina. Pada temperatur rendah kedua komponen membentuk kompleks yang kuat sehingga kompleks terurai membentuk dua komponen sehingga sulit bercampur. Sementara pada temperatur tinggi kompleks yang terbentuk sangat lemah sehingga mudah bercampur membentuk satu fasa. Temperatur tinggi ini yang disebut sebagai temperatur kritis (Tc) ( Atkins, 1999)
Kesimpulan
Kurva yang menyatakan hubungan antara temperatur dan komposisi fenol dalam air dapat diperoleh dengan menghitung fraksi mol fenol dalam air. Persamaan yang digunakan yaitu     sehingga diperoleh grafik T vs fraksi mol fenol. T ditempatkan pada ordinat dan fraksi mol C6H5OH ditempatkan pada absis. Sedangkan temperatur kritis pada percobaan ini pada temperatur 77oC. Temperatur ini sesuai dengan teori bahwa pada temperatur diatas 76oC campuran fenol air akan membentuk satu fasa (fasa homogen). Pada campuran fenol air bercampur pada suhu tinggi karena kompleksnya sangat lemah sehingga fenol dapat bercampur sempurna dengan air pada 0.527 mol pada komposisi fenol 0.404.
Daftar Pustaka
Atkins, PW. , 1999, Kimia Fisika, Jakarta: Erlangga.
BS, Nurwachid., 2006, Kimia Fisika II, Semarang: Jurusan Kimia FMIPA UNNES.
Dogran S dan Dogra SK., 2008, Kimia Fisik dan Soal-soal, Jakarta: UI Press.
Rohman, Ijang., 2004, Kimia Fisika I, Bandung: UPI.
Wahyuni, Sri., 2003, Buku Ajar Kimia Fisika 2, Semarang: UNNES.