PENURUNAN TITIK BEKU PELARUT ASAM ASETAT
TERHADAP NATRIUM ASETAT
Lab.Kimia Fisika Jurusan Kimia Universitas Negeri Semarang
Gedung D8 Lt 2 Sekaran Gunungpati Semarang, Indonesia
gupitachemist@gmail.com,
085640634695
Abstrak
Percobaan penurunan titik beku
pelarut asam asetat terhadap natrium asetat bertujuan untuk mengetahui pengaruh
adanya zat terlarut nonvolatile
terhadap penurunan titik beku pelarut. Selain itu, percobaan ini juga digunakan
untuk menentukan besarnya Berat Molekul zat terlarut. Metode yang digunakan
adalah metode dengan variasi waktu dan massa. Temperatur asam asetat digunakan
sebagai temperatur awal atau temperatur zat pelarut (To). Sementara
temperatur konstan yang diperoleh dari CH3COONa pada larutan B, C,
D, E, dan F disebut sebagai temperatur akhir atau temperatur zat terlarut (T1).
Analisis yang digunakan pada percobaan ini menggunakan persamaan Roult. Hasilnya
semakin besar massa dari zat yang terlarut nonvolatile
yang ditambahkan penurunan titik beku Asam Asetat semakin besar. percobaan ini
juga menunjukkan bahwa titik beku larutan lebih rendah dari pada titik beku
pelarut murni asam asetat. Titik beku larutan pada penambahan akhir diperoleh
titik beku Natrium Asetat 0,22oC. Sementara titik beku pelarut Asam
Asetat adalah 0,5 oC. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan
bahwa titik beku larutan lebih rendah dari pada titik beku pelarutnya.
Berdasarkan percobaan Berat Molekul CH3COONa adalah 81,68
. Sedangkan menurut teoritis Berat Molekul Natrium
asetat 82
.
Kata kunci: Asam asetat, Natrium
Asetat, Penurunan Titik Beku
Abstract
Experimental freezing point
depression solvent acetic acid to sodium acetate aimed to determine the effect
of a nonvolatile solute to solvent freezing point depression . In addition
,this experiment also used to determine the weight of the solute molecule . The
method used is the method of the variation of time and mass . Temperature of acetic
acid is used as the initial temperature or solvent temperature ( To)
. While the constant temperature obtained from the solution of CH3COONa B, C,
D, E , and F is called the final temperature or solute temperature ( T1
) . The analysis used in this experiment using the equation Roult . The result
of the greater mass of the dissolved nonvolatile substances were added lowering
the freezing point of the Acetic Acid . This experiment also showed that the
freezing point of the solution is lower than the freezing point of pure solvent
acetic acid . Freezing point of the solution at the end of the addition of
freezing obtained Sodium Acetate 0.22 oC . While the freezing point of the
solvent Acetic Acid is 0.5 oC . This is consistent with the theory that the freezing
point of the solution is lower than the freezing point of the solvent . Based
on experiments CH3COONa Molecular Weight is 81.68
. Meanwhile, according to theoretical Molecular Weight
Sodium acetate 82
.
Keywords : Acetic acid , Freezing
Point Depression, Sodium Acetate
Pendahuluan
Larutan dalam senyawa kimia diartikan
sebagai suatu campuran homogen yang terdispersi pada spesies kimia dalam skala
molekular. Larutan biner merupakan larutan yang terdiri atas dua unsur.
Sedangkan larutan tersier (terner) merupakan larutan yang terdiri atas tiga
unsur, dan kuartener terdiri atas empat unsur. Larutan mempunyai fase yang
berbeda-beda. Larutan dapat berupa gas, cairan, atau padatan. Fase ini
mempengaruhi sifat dari zat tersebut. Salah satunya sifat koligatif
larutan.
Ada dua sifat-sifat larutan. Pertama,
sifat larutan yang ditentukan dari jenis dan kepekatan (konsentrasi) zat
terlarut. Kedua, sifat larutan yang hanya tergantung pada konsentrasi zat
terlarut saja tidak tergantung pada jenis larutan. Sifat yang seperti ini
disebut sifat koligatif larutan (Purba, 1987).
Dalam sifat koligatif larutan dikenal
istilah pelarut dan zat terlarut. Dikatakan sebagai pelarut apabila zat
tersebut mempunyai konstituen dengan jumlah yang besar, sedangkan konstituen
yang adanya relatif dalam jumlah kecil disebut zat terlarut. Contoh sifat
koligatif larutan adalah penurunan titik beku
.
Titik beku larutan adalah temperatur
pada saat larutan setimbang dengan pelarut padatnya. Larutan mempunyai titik
beku lebih rendah dari titik beku pelarutnya. Alat yang biasa digunakan untuk
menentukan nilai dari
adalah alat Beckman (Sukardjo, 2002).
Suhu pada perpotongan garis tekanan
tetap pada 1 atm dengan kurva peleburan disebut titik beku. Sedangkan titik
didih adalah suhu perpotongan garis tekanan tetap pada 1 atm dengan kurva
penguapan. Penurunan titik beku dan peningkatan titik didih, sama halnya
seperti penurunan tekanan uap yang sebanding dengan konsentrasi fraksi molnya
(Petruci, 1987).
Penurunan titik beku larutan dengan peningkatan titik
didih dapat dilihat pada diagram fase dalam pelarut biasa yang ditunjukkan
dengan kurva Gambar 1.
Suatu zat terlarut yang nonvolatile akan menurunkan titik beku
zat pelarutnya. Hal tersebut terjadi karena zat terlarut bersifat sukar menguap,
maka pada suhu 0oC ternyata belum membeku dan tekanan permukaannya
lebih kecil dari 1 atm. Sehingga larutan harus dibekukan pada tekanan 1 atm
dengan menurunkan suhu larutan. Penurunan titik beku larutan dari titik beku
pelarutnya disebut penurunan titik beku (
) (Dogra, 1894).
Menurut Roult untuk larutan yang sangat
encer berlaku:
Dimana
Kf adalah tetapan penurunan titik beku
molal (oC/mol)
m adalah molalitas larutan (mol.L-1)
Hukum Roult menyatakan bahwa tekanan
uap suatu komponen dalam suatu larutan sama dengan tekanan uap larutan murni
dikali dengan fraksi mol komponen yang menguap dalam larutan. Pada temperatur
yang sama, larutan memiliki tekanan yang lebih rendah dari pada pelarut
murninya. Akibatnya titik beku larutan menjadi lebih rendah jika dibandingkan
dengan titik beku pelarut murninya. Air murni pada tekanan 1 atm membeku pada
0oc. Besarnya penurunan titik beku (
) hanya ditentukan oleh jumlah partikel zat terlarut.
Semakin banyak partikel zat terlarut maka semakin besar pula (
) ( Anshory, 1999).
Metode
Metode yang digunakan dalam percobaan
penentuan penurunan titik beku pelarut asam asetat terhadap natrium asetat adalah persiapan bahan dan alat percobaan.
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan meliputi larutan asam asetat murni 15
ml, CH3COONa solid dengan variasi massa. Massa natrium asetat yang
digunakan secara berturut-turut 1,0006; 1,0008; 1,0006; 1,0005 dan 1,0004 gram for syn dari Merck. Sedangkan alat-alat
yang digunakan meliputi 2 buah Beaker Gelas 50 dan 75 ml pirex made england, 1 buah Labu Ukur 25 ml pirex made england, 2 buah Statif, 2 buah Pengaduk, 2 buah
Termometer 100oC, dan 2 buah Stopwacth.
Perlakuan pertama dalam percobaan ini
adalah 15 ml CH3COOHdiambil
kemudian dimasukkan kedalam Beaker Gelas. Sebelum melakukan percobaan utama,
terlebih dahulu Termostat disiapkan dengan es dimasukkan ke dalam Termostat yang
sudah dibubuhi garam. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan supaya es terjaga
temperaturnya sehingga tidak mudah mencair. Perlakuan kedua, penurunan titik
beku pelarut asetat dilakukan dengan temperatur asam asetat (larutan A) diukur
sampai diperoleh temperatur konstan. Artinya, temperatur yang diperoleh tidak
berubah sampai waktu berapapun. Temperatur asam asetat ini digunakan sebagai
temperatur awal atau temperatur zat pelarut (To). Sementara
temperatur konstan yang diperoleh dari CH3COONa pada larutan B, C,
D, E, dan F disebut sebagai temperatur akhir atau temperatur zat terlarut (T1).
Larutan B adalah 1,0006 gram CH3COONa
yang dilarutkan dalam larutan A. Larutan C adalah massa CH3COONa
dari larutan (B+C) sehingga diperoleh 2,0014 gram CH3COONa yang
dilarutkan dalam larutan B. larutan D adalah massa CH3COONa dari
larutan (B+C+D) sehingga diperoleh 3,0020 gram CH3COONa yang
dilarutkan dalam larutan C. Larutan E adalah massa CH3COONa dari
larutan (B+C+D+E) sehingga diperoleh 4,0025 gram CH3COONa yang
dilarutkan dalam larutan D. Perlakuan yang sama juga pada larutan F sehingga
pada larutan F sebanyak 5,0029 gram CH3COONa dilarutkan dalam
larutan E.
Perlakuan ketiga, penurunan titik beku
zat terlarut natrium asetat terhadap pelarut asam asetat.
CH3COONa
diperoleh dengan temperatur natrium asetat yang
larut dalam asam asetat diukur sampai temperatur konstan. Perlakuan ini
dilakukan pada setiap larutan baik larutan B, C, D, E, maupun F. Untuk mengolah
dan menganalisis data yang diperoleh digunakan rumus persamaan Roult. Sedangkan
untuk menghitung Berat Molekul diperoleh dari perhitungan molalitas larutan.
Sehingga diperoleh grafik regresi linier mengenai hubungan antara waktu dan
temperatur.
Hasil Dan Pembahasan
Hasil dari penentuan titik beku Asam Asetat
murni dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Penurunan Titik Beku Asam
Asetat Murni pada Temperatur Ruang 27oC
|
t (menit)
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
|
Temperatur (oC)
|
1,4
|
1,1
|
0,9
|
0,8
|
0,5
|
0,5
|
0,5
|
0,5
|
0,5
|
Berdasarkan tabel diatas dapat dibuat
grafik regresi linier hubungan antara penurunan temperatur asam asetat terhadap
waktu. Grafik tersebut tersaji pada Gambar 2.
Sedangkan penurunan titik beku zat
terlarut CH3COONa pada larutan B, C, D, E, dan F dapat dilihat pada
Tabel 2,Tabel 3, Tabel 4, Tabel 5 dan Tabel 6.
Tabel 2. Penurunan Titik Beku Zat
Terlarut CH3COONa pada Larutan B
|
t (menit)
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
|
Temperatur (oC)
|
1,4
|
1,3
|
1,2
|
1,2
|
1,2
|
1,2
|
1,2
|
1,2
|
1,2
|
Titik beku larutan B = 1,2oC
Penurunan titik beku pada larutan B 
Tabel 3. Penurunan Titik Beku Zat
Terlarut CH3COONa pada Larutan C
|
t (menit)
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
|
Temperatur (oC)
|
1,1
|
0,9
|
0,8
|
0,7
|
0,7
|
0,7
|
0,7
|
0,7
|
0,7
|
Titik beku larutan C = 0,7oC
Penurunan titik beku pada larutan B 
Tabel 4. Penurunan Titik Beku Zat
Terlarut CH3COONa pada Larutan D
|
t (menit)
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
|
Temperatur (oC)
|
0,9
|
0,7
|
0,6
|
0,5
|
0,5
|
0,5
|
0,5
|
0,5
|
0,5
|
Titik beku larutan D = 0,5oC
Penurunan titik beku pada larutan B 
Tabel 5. Penurunan Titik Beku Zat
Terlarut CH3COONa pada Larutan E
|
t (menit)
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
|
Temperatur (oC)
|
0,8
|
0,6
|
0,5
|
0,4
|
0,3
|
0,3
|
0,3
|
0,3
|
0,3
|
Titik beku larutan E = 0,3oC
Penurunan titik beku pada larutan B 
Tabel 6. Penurunan Titik Beku Zat
Terlarut CH3COONa pada Larutan F
|
t (menit)
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
|
Temperatur (oC)
|
0,6
|
0,4
|
0,32
|
0,30
|
0,22
|
0,22
|
0,22
|
0,22
|
0,22
|
Titik beku larutan B = 0,22oC
Penurunan titik beku pada larutan B 
Berdasarkan tabel penurunan titik beku
asam asetat terhadap natrium asetat dapat dibuat grafik hubungan antara
temperatur zat terlarut (oC) dengan waktu (menit). Grafik penurunan
natrium asetat dari pelarut asam asetat dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar
3. Grafik Penurunan Titik Beku CH3COONa pada Larutan B, C, D, E, dan
F
Pada Tabel 2, 3, 4, 5, dan 6,
menunjukkan bahwa semakin besar massa dari zat yang terlarut nonvolatile yang ditambahkan penurunan
titik beku Asam Asetat semakin besar atau semakin cepat. Hal ini dipengaruhi
oleh faktor molalitas dari larutan yang semakin besar sehingga konsentrasi
larutan menjadi semakin besar. Hal ini sesuai dengan persamaan Roult mengenai
penurunan titik beku sebagai berikut:
Perubahan temperatur berbanding lurus
dengan perubahan titik beku untuk konsentrasi zat terlarut, penurunan titik
beku berkaitan dengan besarnya molalitas total dari zat yang terlarut. Maka
apabila molalitas total zat terlarut semakin besar penurunan titik beku larutan
semakin besar. Pernyataan ini sesuai dengan teori dalam buku Reis pada tahun
1999.
Larutan yang mengandung zat terlarut
tak volatil dapat menurunkan titik beku pelarut. Semakin tinggi konsentrasi zat
terlarut yang ditambahkan dalam suatu larutan maka semakin besar pula penurunan
titik bekunya (Reis, 1999).
Tabel 2,3,4,5, dan 6 juga menunjukkan
bahwa titik beku larutan lebih rendah dari pada titik beku pelarut murni. Titik
beku larutan pada penambahan akhir yang terdapat pada Tabel 6 diperoleh titik
beku Natrium Asetat 0,22oC. Sementara titik beku pelarut Asam Asetat
adalah 0,5 oC. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa
titik beku larutan lebih rendah dari pada titik beku pelarutnya.
Dalam sifat koligatif larutan,
dinyatakan bahwa titik beku larutan lebih rendah dari pada titik beku pelarut
murni. Larutan gula misalnya membeku dibawah temperatur 0oC.
Sementara pelarutnya air membeku pada temperatur 0oC (Sastrawijaya,
1993).
Berdasarkan perhitungan harga
asam asetat
murni pada percobaan dengan menggunakan persamaan Roult merujuk pada Tabel 6,
maka diperoleh harga
sebesar 0,072 oC/m. Harga
yang diperoleh pada percobaan berbeda jauh dengan
Asam asetat
secara teori. Secara teori
Asam Asetat
adalah 3,570 oC/m. Perbedaan ini dapat terjadi karena beberapa
faktor yang dapat mempengaruhi salah satunya dapat disebabkan oleh kondisi
lingkungan yang kurang baik, baik thermostat tempat zat ini dimasukkan maupun
pengadukan yang kemungkinan besar belum tercampur secara homogen.
Secara krioskopis, percobaan ini juga
digunakan untuk menentukan berat molekul zat yang dilarutkan dalam asam asetat
murni. Percobaan yang dilakukan, tidak menentukan berat molekul zat terlarut
dalam asam asetat glasial (naftalein) karena dalam percobaan ini tidak
mencapurkan zat terlarut CH3COONa dengan naftalein. Namun langsung
mencampurkan CH3COONa dengan asam asetat murni. Berat molekul zat
terlarut Natrium Asetat dapat diperoleh dari hasil bagi antara berat zat terlarut
dikali 1000 dikali dengan harga
yang diperoleh
dari hasil percobaan dan dibagi dengan penurunan titik beku larutan dikali
dengan berat pelarutnya sendiri. Secara matematis, persamaan ini dapat
dituliskan:
Berat Molekul zat terlarut yang
diperoleh pada percobaan dihitung sebagai berikut:

Sedangkan Berat Molekul zat
terlarut CH3COONa secara teoritis adalah 82
. Sehingga pada percobaan ini kesalahan penentuan
Berat Molekul sebesar 0,320
. Perhitungan
ini menunjukkan bahwa garam CH3COONa yang terlarut mempunyai titik
beku yang lebih rendah dari pada asam asetat sebagai pelarutnya. Hal ini disebabkan
karena titik beku garam dapat menentukan massa molar garam CH3COONa.
Pernyataan ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa pengukuran titik beku
dapat digunakan untuk menentukan massa molar zat yang tidak diketahui.
Gejala penurunan titik beku
menyebabkan garam yang terlarut dalam air laut memiliki titik beku yang lebih
rendah dari pada air laut. Larutan garam yang semakin pekat atau konsentrasinya
semakin tinggi memiliki titik beku yang lebih rendah lagi. Pengukuran titik
beku sama seperti peningkatan titik didih yang dapat digunakan untuk menentukan
massa molar zat yang belum diketahui (Norman, 2001)
Kesimpulan
Penurunan titik beku asam asetat dari
zat terlarut CH3COONa semakin besar Natrium Asetat yang ditambahkan
maka semakin besar massa dari zat yang terlarut nonvolatile sehingga penurunan titik beku Asam Asetat semakin besar
atau semakin cepat. Sebaliknya semakin kecil massa dari zat terlarut maka
molalitas total larutan semakin kecil sehingga penurunan titik beku Asam asetat
semakin kecil pula. Selain itu, percobaan ini juga menunjukkan bahwa titik beku
larutan lebih rendah dari pada titik beku pelarut murni. Titik beku larutan
pada penambahan akhir yang terdapat pada Tabel 6 diperoleh titik beku Natrium
Asetat 0,22oC. Sementara titik beku pelarut Asam Asetat adalah 0,5 oC.
Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa titik beku larutan lebih
rendah dari pada titik beku pelarutnya. Percobaan ini juga menentukan Berat
Molekul zat terlarut CH3COONa. Berdasarkan percobaan Berat Molekul CH3COONa
adalah 81,68
. Sedangkan menurut teoritis Berat Molekul Natrium
asetat 82
. Oleh karena itu, percobaan ini dapat dinyatakan
valid.
Daftar Pustaka
Anshory, Irfan. 1994. Kimia. Jakarta: Erlangga.
Dogra SK dan S Dogra. 1894. Kimia Fisik dan Soal-soal. Jakarta: UI
Press.
Norman. 2001. Prinsip-prinsip Kimia Modern. Jakarta: Erlangga.
Petruci, Ralph. 1987. Kimia Dasar, Prinsip dan Terapan Modern.
Jakarta: Erlangga.
Reis. 1999. Sifat-sifat Gas dan Zat Cair. Jakarta: Gramedia.
Sastrawijaya, Tresna. 1993. Kimia Dasar 2. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
Sukardjo. 2002. Kimia Fisika. Yogjakarta: Rineka Cipta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar