Rabu, 13 November 2013

Menentukan volume molal parsial natrium klorida dalam air

Penty Cahyani, Triana Rahayu
Lab. Kimia Fisika Jurusan Kimia Universitas Negeri Semarang
Gedung D8 Lt 2 Sekaran Gunungpati Semarang, Indonesia
Vicha.arhin@yahoo.com, 087728117272

Abstrak
Percobaan ini dilakukan untuk menentukan volume molal parsial larutan NaCl dalam air sebagai fungsi konsentrasi dengan mengukur densitas larutan menggunakan piknometer. Hal tersebut dilakukan dengan variasi konsentrasi melalui penentuan bobot jenis larutan NaCl dalam piknometer dengan metode analitik dan metode grafik. Sebanyak 25 ml larutan NaCl 3 M, 1.5 M, 0.75 M, 0.375 M, dan 0.1875 M masing-masing dimasukan ke dalam piknometer 25 ml dan kemudian ditimbang satu per satu serta dicatat suhunya. Kemudian dibandingkan dengan berat piknometer kosong dan berat piknometer yang berisi aquades untuk mendapatkan nilai volume molal parsial dari larutan NaCl dalam air. Hasil percobaan menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi larutan NaCl dalam piknometer, maka semakin besar pula berat piknometer yang berisi larutan NaCl tersebut. Sementara suhu yang tercatat menunjukkan bahwa suhu NaCl semakin rendah seiring rendahnya konsentrasi dari larutan NaCl tersebut. Dari hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa volume molal parsial larutan NaCl dalam air adalah sebesar cm3/mol. Dapat disimpulkan pula bahwa densitas larutan NaCl berbanding lurus dengan konsentrasi dari larutan NaCl.
Kata kunci : konsentrasi; NaCl; volum molal parsial;densitas.

Pendahuluan

Besaran suatu padatan atau gas dalam larutan biasanya dinyatakan sebagai molalitas daripada sebagai fraksi mol. Misalnya, kebanyakan data tentang bebas pembentukan zat larutan encer mengacu kepada keadaan rujukan bermolalitas satu. Ini adalah hal yang umum dan molalitas memiliki arti teori yang kurang dari fraksi mol.
Molalitas suatu zat terlarut adalah jumlah mol tiap kg zat pelarut. Hal ini memiliki sifat molal parsial untuk menentukan volume molal parsial dan sifat molal parsial yang paling mudah digambarkan adalah volume molal parsial komponen dalam sampel terhadap volume total. Volume molal parsial suatu larutan didefenisikan sebagai penambahan volume yang terjadi bila satu mol komponen I ditambahkan pada larutan. Volume molal parsial dari komponen-komponen dalam larutan merupakan salah satu sifat termodinamik molal parsial utama yang dapat ditentukan dengan bantuan metode grafik dengan bantuan menggunakan fungsi hubungan analitik yang menunjukkan hubungan J dan ni dan dengan menggunakan suatu fungsi yang disebut besaran molal nyata.
Dalam termodinamika dikenal adanya 2 tipe peubah yaitu tipe peubah ekstensif  yang bergantung pada jumlah fase misalnya volume, entropi, energi dalam dan entalpi, serta peubah intensif yaitu peubah yanng tidak bergantung pada jumlah fase contohnya tekanan dan suhu. Volume molal parsial merupakan salah satu atau termasuk ke dalam besaran ekstensif.
Volume molal parsial dapat dipengaruhi beberapa faktor diantaranya konsentrasi dan suhu. Konsenntrasi suatu larutan tertentu tidak memiliki nilai yang sama pada dua temperatur ang berbeda karena kedua keadaan tersebut mengalami perubahan kerapatan.
Berdasarkan pada teori di atas, maka dilakukanlah percobaan penentuan volume molal parsial suatu larutan, dalam hal ini adalah larutan NaCl. Dalam analisa ini, berbagai informasi mengenai sifat larutan dapat diketahui. Sifat-sifat tersebut antara lain massa larutan, molaritas, densitas, dan volume molal parsial larutan yang kemudian dapat dijelaskan hubungannya dengan peningkatan konsentrasi larutan. Dengan menggunakan metode grafik, melalui percobaan ini dapat diketahui nilai volume molal parsial larutan NaCl.
Molal atau molalitas didefinisikan sebagai jumlah mol solute per kg solven. Berarti merupakan perbandingan antara jumlah mol solute dengan massa solven dalam kilogram.
Jadi, jika ada larutan 1,00 molal maka larutan tersebut mengandung 1,00 mol zat telarut dalam 1,00 kg pelarut.
Secara matematik, volume molal parsial didefinisikan sebagai
Dimana  adalah volume molal parsial dari komponen ke-i. Secara fisik  berarti kenaikan dalam besaran termodinamik V yang diamati bila satu mol senyawa i ditambahkan ke suatu sistem yang besar, sehingga komposisinya tetap konstan.
Pada temperatur dan tekanan konstan, persamaan di atas dapat ditulis sebagai
  , dan dapat diintegrasikan menjadi

                                                                                                                                                     
Arti fisik dari integrasi ini adalah bahwa ke suatu larutan yang komposisinya tetap, suatu komponen n1, n2,..., niditambah lebih lanjut, sehingga komposisi relatif dari tiap-tiap jenis tetap konstan. Karenanya besaran molal ini tetap sama dan integrasi diambil pada banyaknya mol (Dogra.1990).
Ada tiga sifat termodinamik molal parsial utama, yakni: (i) volume molal parsial dari komponen-komponen dalam larutan (juga disebut sebagai panas differensial larutan), (ii) entalpi molal parsial, dan (iii) energi bebas molal parsial (potensial kimia). Sifat-sifat ini dapat ditentukan dengan bantuan (i) metode grafik, (ii) menggunakan hubungan analitik yang menunjukkan V dan ni, dan (iii) menggunakan suatu fungsi yang disebut besaran molal nyata yang ditentukan sebagai:
    Atau                                   
Dimana  adalah volume molal untuk komponen murni.
Pada eksperimenini, digunakan 1 macam zat, yaitu NaCl dan air. Maka, persamaan di atas dapat ditulis menjadi:
                                                                                                                 
Dimana  adalah jumlah mol air, dan  adalah jumlah mol zat terlarut (NaCl).
Dimana  adalah massa pelarut, dalam hal ini adalah air, dan
      Sehingga,
untuk  pada 1 mol. Sedangkan harga pada variasi  mol adalah
Setelah didapatkan semua harga dalam masing-masing variasi mol, maka semua harga ini dapat diplot terhadap  mol. Kemiringan yang didapatkan dari grafik ini adalah , dan dapat digunakan untuk menentukan harga volume molal parsial , berdasarkan persamaan berikut:

(Basuki.2003)

Lewis dan Randall telah menggambarkan metode grafik yang dapat digunakan untuk mengolah data. Metode ini menggunakan volume molal semu  untuk perlakuan larutan biner. Volume molal semu dapat didefinisikan sebagai berikut :
Dimana  adalah volume larutan yang mengandung komponen  dan  sedangkan  adalah molar solvent murni pada T,P.
Larutan memiliki molalitas m dengan pelarut air. Untuk setiap 1000 gram air dalam larutan ini atau setiap 55,1 mol, terdapat m mol solut. Jadi  dan . Harga volume molal parsial semu menjadi :
 adalah volume molar air murni yang dapat diperoleh dari perhitungan berat molekul (18,016 untuk air) dibagi dengan berat jenis pada saat diamati. Untuk larutan tersebut berarti :
Dan
Dengan ,  berturut-turut adalah berat jenis larutan, berat jenis air murni.  merupakan massa molekul relatif atau  berat molekul dari solut. Sehingga volume molal parsial menjadi :
Persamaan tersebut dapat digunakan ketika dalam pengukuran berat jenis menggunakan piknometer. W, W0, We berturut-turut adalah berat piknometer yang berisi larutan penuh, piknometer berisi air, dan piknometer kosong.
Volume molal parsial solven (komponen 1) maupun solut (komponen 2) dapat dihitung dari :
Untuk konsentrasi yang tidak pekat misal pada larutan elektrolit sederhana seperti NaCl,  linear terhadap  , karena :
Sehingga untuk volume molal parsial komponen kedua menjadi :
Jika untuk larutan NaCl  linear terhadap  , maka :
Sehingga
Volume molal parsial komponen 1 menjadi :
Nilai  diperoleh dari ekstrapolasi grafik  lawan  pada konsentrasi m mendekati nol. Dengan membuat grafik  lawan  yang linear, maka slope  dapat dicari dan volume molal parsial solven dapat dihitung. Demikian pula nilai dari lereng   dan  dari volume molal parsial solut dapat dihitung.
( Sri Wahyuni, 2013)

Menurut Dogra dan Dogra (2009), perhitungan dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu metode grafik dan metode analitik. Pade metode grafik, nilai J diplot sebagai suatu fungsi komposisi larutan dengan menjaga semua komposisi komponen lain tetap kecuali satu. Jika plot ini linear, kemiringan garis tersebut akan menjadi besaran molal parsial dari komponen itu. Ini juga memperlihatkan bahwa sifat0sifat molal parsial dari komponen-komponen itu tidak bergantung pada konsentrasi. Jika plot J dalam hal ini tidak linear, maka :
Dalam metode analitik, jika harga ekstensif dapat dinyatakan sebagai suatu fungsi aljabar dari komposisi tersebut, sifat molal parsial dapat dihitung secara analitik.

Metode

Metode dari percobaann ini adalah menghitung bobot piknometer yang berisi larutan NaCl dengan berbagai konsentrasi dan dibandingkan dengan bobot piknometer yang beiri aquades dan bobot piknometer kosong. Hal yang pertama dilakukan adalah dibuat larutan induk NaCl 3 M. Ditimbang 17,52 gram NaCl padat dengan neraca digital. 17,52 gram NaCl padat dilarutkan ke dalam beberapa ml aquades sampai larut, dimasukkan ke dalam labu takar 100 ml dan ditambahkan aquades sampai tanda batas. Dikocok dan ujung labu takar ditutup dengan plastik. Disiapkan piknometer yang bersih dan kering, ditimbang bobotnya. Piknometer diisi dengan akuades sampai penuh dan diimpitkan. Bobot piknometer ditimbang dengan menggunakan neraca analitik atau neraca digital. Dicatat bobot dan suhunya. Di samping itu, NaCl 3 M diencerkan sehingga konsentrasinya menjadi 1,5 M. Caranya diambil 50 ml dari larutan NaCl 3 M dan diencerkan sampai 100 ml sehingga konsentrasinya menjadi 1,5 M. Diambil 50 ml dari larutan NaCl 1,5 M dan diencerkan menjadi 100 ml sehingga konsentrasinya menjadi 0,75 M. Diambil 50 ml dari larutan NaCl 0,75 M dan diencerkan sampai 100 ml sehingga konsentrasinya menjadi 0,375 M. Diambil 50 ml dari larutan NaCl 0,375 M dan diencerkan sampai 100 ml sehingga konsentrasinya menjadi 0,8175 M. Larutan yang telah diencerkan tersebut masing-masing dimasukan ke dalam piknometer 25 ml dengan menggunakan pipet volume 25 ml. Masing-masing larutan dalam piknometer ditimbang bobotnya menggunakan neraca analitik atau neraca digital secara berurutan dimulai dengan konsentrasi yang terbesar sampai terkecil. Dicatat bobot dan suhunya masing-masing.
Untuk memperoleh kuantitas volume molal parsial, data berat piknometer yang berisi larutan NaCl dengan berbagai konsentrasi serta berat piknometer kosong, dan berat piknometer berisi aquades akan diolah dengan menggunakan differensial eksak sebab sifat suatu larutan sebagai volume campuran NaCl dan air berubah secara kontinyu akibat komposisi berubah. (G N Lewis). Selain itu juga metode grafik seperti yang telah digambarkan Lewis dan Randall akan digunakan sebagai metode pengolah data.

Hasil Dan Pembahasan

Pada percobaan volume molal parsial ini, digunakan larutan NaCl. NaCl berfungsi sebagai zat terlarut dan aquadest merupakan pelarutnya. NaCl digunkan karena merupakan larutan elektrolit kuat yang akan terurai menjadi Na+ dan Cl- di dalam air. Selain itu mampu menyerap air tanpa adanya penambahan volume, sehingga disebut volume molal parsial semu.
Percobaan ini dilakukan dengan 5 macam variasi molaritas larutan NaCl yaitu 3M; 1,5M; 0,75M; 0,375M dan 0,1875M. Adanya perbedaan konsentrasi NaCl akan mempengaruhi besarnya massa jenis pula. Semakin tinggi konsentrasinya massa jenis atau keraoatannya juga semakin besar. Hal ini disebabkan semakin tinggi konsentrasi, makin banyak pula NaCl yang terlarut di dalam air. Hal ini dibuktikan dengan hasil pengukuran massa piknometer berisi larutan NaCl dengan konsentrasi tinggi, massanya semakin besar. Hasil perhitungan massa jeni menyatakan semakin tinggi konsentrasi, massa jenisnya semakin besar.
Pada perhitungan volume molal semu (ϕ) diperoleh data 1 sampai data 5 yang menyimpang, sehingga pada pembuatan grafik, ϕ vs mtidak digambarkan. Adanya kesalahan ini mungkin disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya:
1. Kesalahan dalam prosedur percobaan.
2. Pengenceran yang tidak teliti sehingga konsentrasinya terjadi kesalahan.
3. Larutan NaCl yang digunakan terlalu pekat.
4. Kurang teliti dalam penimbangan.

Penimbangan dilakukan terhadap masing-masing larutan dengan 5 variasi menggunakan piknometer 25 ml. Dari perhitungan, diperoleh massa jenis air sebesar 0,9959 gr/ml. Sedangkan massa jenis NaCl menunjukkan kenaikan sejalan dengan semakin besarnya molaritas. Molaritas yang semakin tinggi menyebabkan massa yang lebih besar pula sehingga dapat menambah berat larutan dalam air. Massa yang semakin tinggi inilah yang menyebabkan massa jenis semakin bertambah. 
Dari hasil analisis data yang dilakukan, harga volum molal parsial semu yang diperoleh ternyata berbanding terbalik dengan konsentrasi larutan NaCl. Padahal menurut teori volum molal parsial akan berbanding lurus dengan konsentrasinya.
. Besarnya berat jenis larutan NaCl dari konsentrasi 3 -0,8175 M semakin kecil yaitu 1,142 g/mL, 0,9941 g/mL, 0,9604 g/mL, 0,9401 g/mL, 0,9083 g/mL. Semakin kecil konsentrasi maka akan semakin kecil berat jenisnya. Hal ini disebabkan karena semakin tinggi konsentrasi suatu larutan, menunjukkan jumlah partikel dalam larutan tersebut semakin banyak. Dengan kata lain, konsentrasi suatu larutan berbanding lurus dengan densitas larutan. Dari grafik antara volume molar nyata terhadap Öm, diperoleh slope F/Öm = -75,26 cm3/mol. Pada percobaan ini terjadi kekurangtepatan bisa disebabkan oleh pengaruh suhu dari lingkungan. Volume molar parsial juga bergantung pada suhu. Karena jika suhu tinggi maka volume molar parsial tinggi selain itu kesterilan alat juga sangant berpengaruh tentunya. Selain itu faktor utama kesalahan dalam percobaan ini adalah bobot piknometer yang berisi aquades lebih besar daripada bobot piknometer yang berisi larutan NaCl. Seharusnya adalah sebaliknya.
Dalam hal ini grafik tidak bisa digambarkan karena data-data yang didapat tidak sesuai dengan yang seharusnya didapatkan. Oleh karena itu, yang akan dituliskan hanya data-data hasil percobaan serta hasil analisis dari data tersebut saja.
Tabel 1. Data Pengamatan
No.
[NaCl]
Berat piknometer (gram)
W - We
W - W0
W0 - We
Suhu
We
W0
W
1.
3 M
18,7960
43,9860
47,8387
29,0427
3,8527
25,1900
270C
2.
1,5 M
18,7960
43,9860
43,9415
25,1455
-0,0445
25,1900
270C
3.
0,75 M
18,7960
43,9860
43,0871
24,2911
-0,8989
25,1900
270C
4.
0,375 M
18,7960
43,9860
42,5749
23,7789
-1,4111
25,1900
270C
5.
0,8175 M
18,7960
43,9860
41,7705
22,9745
-2,2155
25,1900
270C

Setelah didapatkan data pengamatan tersebut, dilakukan analisis data dengan metode differensial eksak seperti yang telah dijelaskan oleg G N Lewis.
Tabel 2. Data Hasil Analisis
No.
[NaCl]
Molalitas (m)
Berat jenis ( )
Volume molal parsial semu ( )
1.
3 M
3,6312
1,9056
1,1482
-3617,37
2.
1,5 M
1,8156
1,3474
0,9941
59,84
3.
0,75 M
0,9078
0,9528
0,9604
101,85
4.
0,375 M
0,4539
0,6737
0,9401
189,78
5.
0,8175 M
0,2270
0,4764
0,9083
490,97

Data hasil analisis menunjukkan adanya kesalahan pada nilai volum molal parsial semu. Seharusnya nilai volum molal parsial semakin besar seiring dengan bertambahnya konsentrasi. Dengan kata lain, besar volume molal parsial berbanding lurus dengan konsentrasinya.

Gambar 1. Grafik Hubungan  dengan

Kesimpulan
Dari percobaan ini dapat disimpulkan beberapa hal diantaranya : volume molal parsial NaCl yang diperoleh adalah sebesar -75,26 cm3/mol, densitas larutan dan harga volume molal parsial larutan NaCl berbanding lurus dengan harga konsentrasi dari larutan NaCl tersebut artinya semakin besar konsentrasi maka semakin besar pula volume molal parsialnya, volume molal parsial air berbanding terbalik dengan konsentrasi NaCl, massa jenis larutan NaCl lebih besar dari massa jenis air, dan ekstrapolasi grafik  lawan  mendekati linear bila larutan encer dan mendekati ideal.

Daftar Pustaka
Dogra, SK. 1990. Kimia Fisik dan soal – soal. Jakarta : Universitas Indonesia
Basuki, Atastrina Sri. 2003. Buku Panduan Praktikum Kimia Fisika. Depok: Laboratorium Dasar Proses Kimia Departemen Teknik Gas dan Petrokimia Fakultas Teknik Universitas Indonesia.
P.W. Atkins “Physical Chemistry” 3rd. Ed. Oxford University. . Pp 161, 168
Shoemaker, David. P “Experiments in Physical Chemistry” 5th Ed.. Mc. Graw Hill, New York 1989. Pp 187-194
Suhardjo. 1985. Kimia Fisika. Yogyakarta: Bina Aksara.
Wahyuni, Sri. 2013. Diktat Praktikum Kimia Fisik. Semarang: Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UniversitasNegeri Semarang.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar